AGENT OF CHANGE

Tsaqofah Islam

SATUKAN UMAT, HINDARI SIKAP ‘ASHABIYAH

Abdul hanif

Masyarakat baru saja disuguhi oleh pemandangan rutin yang dijumpai hanya lima tahun sekali: kampanye Pemilu. Parpol-parpol kontestan Pemilu mengerahkan segala daya dan dana untuk mengegolkan calon-calonnya menjadi wakil rakyat, atau kalau mungkin menjadi kepala negara.

Sangat disayangkan bila partai-partai politik telah memanipulasi kesengsaran, kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan rakyat sebagai bahan-bahan kampanyenya; lalu memolesnya dengan janji-janji kosong. Semua itu mereka kedepankan dalam rangka kepentingan partainya, kepentingan para elit parpol. Sekali lagi sangat disayangkan bila mereka mencampakkan kepentingan ideologi, kepentingan masyarakat, dan kepentingan negara hanya untuk memenuhi nafsu dan ambisi parpol untuk berkuasa.

Dampaknya, tidak jarang, muncul benturan horisontal di antara partai-partai tersebut yang memakan korban harta benda maupun jiwa. Belum lagi ketakutan yang dialami oleh masyarakat karena fanatisme para pengikut dan pendukung parpol. Itulah ‘ashabiyah, yaitu semangat atau fanatisme golongan, kelompok, partai; yang mengedepankan kepentingan-kepentingannya, melupakan kepentingan-kepentingan yang sebenarnya jauh lebih besar dan jauh lebih penting.

‘Ashabiyah adalah perilaku jahiliah.Tatkala Islam datang, tradisi jahiliah ini masih melekat secara mendalam di dalam diri orang-orang Arab, tidak terkecuali kaum Muslim saat itu. Rasulullah saw. senantiasa membenci dan berupaya membuang jauh-jauh tradisi jahiliah tersebut. Sebab, tradisi itulah yang menjadi biang perpecahan dan perselisihan di antara para sahabat dan kaum Muslim.

Suatu ketika, seorang Yahudi bernama Syash bin Qais lewat di hadapan orang-orang Aus dan Khazraj yang saat itu tengah bercakap-cakap. Yahudi tersebut merasa benci melihat keakraban mereka, padahal mereka (Aus dan Khazraj) itu dulunya (sebelum Rasulullah saw berhijrah ke Madinah) saling bermusuhan. Lalu Yahudi tersebut menyuruh seseorang untuk turut terlibat di dalam percakapan mereka, seraya membangkit-bangkitkan cerita jahiliah pada masa Perang Bu’ats. Orang-orang Aus dan Khazraj pun segera terprovokasi. Aus bin Qaizhi dari kabilah Aus dan Jabbar bin Sakhr dari kabilah Khazraj akhirnya saling mencaci pihak lainnya, dan membangga-banggakan golongannya, hingga nyaris terjadi baku hantam dengan pedang terhunus. Berita itu sampai kepada Rasulullah saw. Beliau kemudian menghampiri mereka seraya bersabda (yang artinya), “Wahai kaum Muslim, ingatlah Allah, ingatlah Allah. Apakah kalian akan bertindak layaknya para penyembah berhala? Padahal aku hadir di tengah-tengah kalian dan Allah telah menunjuki kalian dengan Islam sehingga dengan (Islam) itu kalian menjadi mulia, menjauhkan diri dari penyembahan terhadap berhala, menjauhkan kalian dari kekufuran, dan menjadikan kalian bersaudara karenanya?

Seketika merekapun sadar, bahwa mereka digoda syaitan dan diperdaya musuh. Lalu merekapun menurunkan senjatanya, berpelukan dan bertangisan.

Tidak berselang lama, turunlah ayat Allah Swt.:

Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai. Ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian, ketika kalian dulu (pada masa jahiliah) bermusuh-musuhan, hingga Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadikan kalian, karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk. (QS Ali Imran [3]: 103).

Kita khawatir, kampanye yang disaksikan oleh lebih dari 200 juta rakyat yang mayoritasnya adalah kaum Muslim—jika propaganda yang diserukan oleh parpol dan target yang diraih oleh mereka adalah demi kepentingan pribadi, golongan, kelompok, atau partainya saja. Sebab, hal itu seperti seruan pada perilaku jahiliyah yang harus dihindari. Bukankah Rasulullah saw. bersabda:

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ»

Bukan dari golongan kami, orang-orang yang menyerukan ashabiyah; orang-orang yang berperang karena ashabiyah; serta orang-orang yang mati membela ashabiyah. (HR Abu Dawud).

Jika kita benar-benar mengaku Muslim, mestinya kita lebih bersemangat melakukan kampanye dan terlibat aktif di dalam propaganda ditegakkannya hukum-hukum Allah Swt., dan mengkampanyekan agar kaum Muslim hidup bersatu di bawah bendera tauhid Lailaha illallah Muhammadur Rasulullah. Bukankah Allah menyeru kita:

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian pada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian. (QS al-Anfal [8]: 24).

Mendudukan ‘ashabiyah dalam kacamata islam

‘Ashabiyah adalah sifat yang diambil dari kata ‘ashabah yang dalam bahasa arab berarti kerabat dari pihak bapak. Menurut ibnu Madzhur, ‘ashabiyah adalah ajakan seseorang untuk membela keluarga, tidak peduli keluarganya dzalim atau tidak, dari siapapun yang menyerang mereka. Menurut beliau, penggunaan kata ‘ashabiyah dalam hadits identik dengan orang yang menolong kaumnya, sementara mereka dzalim. Pandangan ini sama dengan pandangan al-Manawi ketika menjelaskan maksud hadits :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ

Bukan dari golongan kami, orang-orang yang menyerukan ashabiyah;

Beliau menyatakan, “maksudnya siapa yang mengajak orang untuk berkumpul atas dasar ‘ashabiyah, yaitu bahu-membahu untuk menolong orang yang dzalim.”

Sementara al-Qari menyatakan, “bahu-membahu untuk menolong orang karena hawa nafsu.”

Dalam hadits lain, larangan berperang di bawah bendera ‘Ummiyah dan ‘Immiyah, menurut as-Sindi, adalah bentuk kinayah, yaitu larangan berperang membela jamaah (kelompok) yang dihimpun dengan dasar yang tidak jelas (majhul), yang tidak diketahui apakah haq atau batil. Karena itu, karena itu orang yang berperang karena faktor ta’ashub itu, menurutnya, adalah orang yang berperangbukan demi memenagkan agama, atau menjungjung tinggi kaliamh Allah.

Dengan demikian jelas bahwa makna ‘ashabiyah di sini bersifat spesifik, yaitu ajakan unutk membela orang atau kelompok, tanpa melihat apakah orang atau kelompok tersebut benar atau salah; juga bukan untuk membela islam, atau menjunjung tinggi kalimah Allah, melainkan karena dorongan marah dan hawa nafsu. Karena itu, ajakan untuk bergabung dengan kelompok islam tertentu, yang jelas-jelas berjuang untuk islam, berdasarkan islam, dan diikat dengan ikatan ideologi islam—dengan pandangan, pemikiran dan hukum-hukum yang diadopsinya juga islam—tidak bisa disebut sebagai bentuk ‘ashabiyah.

Hal lain yang harus difahami adalah bahwa nash-nash syari’ah mungkin untuk difahami secara berbeda, baik karena faktor dalalah-nya(penujukan), yang bersifat zhanni, maupun karena faktor kemampuan orangnya, sehingga berpotensi melahirkan perbedaan. Dari perbedaan itu akhirnya berpotensi melahirkan madzhab atau kelompok pemikiran yang berbeda. Karena itu adanya madzhab atau kelompok pemikiran yang berbeda jelas merupakan keniscayaan yang dibenarkan oleh islam.

Adanya kehidupan berkelompok di tengah masyarakat merupakan keniscayaan dan fitrah. Adanya kelompok-kelompok di tengah masyarakat itu juga bukan merupakan sesuatu yang terlarang. Kalaupun ada larangan, dasarnya bukan karena kelompok, tetapi karena pemikiran dan ideologinya. Selama kelompok-kelompok tersebut didirikan berdasarkan akidah islam; anggota-anggotanya juga diikat dengan akidah islam; pandangan, pemikiran dan hukum yang diperjuangakan merupakan pandangan, pemikiran dan hukum islam, maka tidak ada alasan secara syar’i untuk melarang kelompok tersebut.

Alloh telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk membentuk kelompok yang menyerukan islam dan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar (yang hukumnya adalah fardu kifayah), sebagaimana firman Allah :

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. ali Imran [3] : 104)

Perintah di atas bisa dipahami sebagai perintah agar mengajak orang lain untuk masuk menjadi anggota kelompok tersebut. Sebab, logikanya tidak mungkin kelompok yang diperintahkan tersebut bisa dibentuk, sementara mengajak orang lain untuk bergabung dengan kelompok tersebut tidak boleh. Ini merupakan dalalah iltizam dari dalil di atas.

Oleh karena itu mengajak orang pada madzhab atau kelompok islam tertentu tidak bisa dianggap sebagai sikap ‘ashabiyah atau ta’ashub. Hanya saja perlu dicatat, pembentukan kelompok tersebut bukan merupakan tujuan, melainkan washilah untuk melaksanakan tujuan , yaitu menyerukan islam, dan demi amar ma’ruf nahi mungkar. Karena itu pula, mengajak orang untuk bergabung di dlam kelompok bukanlah tujuan utama. Sebab tujuan utamanya mengajak orang lain pada islam, baik memeluk islam maupun menerapkan islam secara kaffah. Namun, juga harus dicatat, bahwa tanpa adanya washilah (berupa kelompok) tersebut, tujuan yang dituntut oleh Allah dalam ayat di atas juga tidak akan bisa diwujudkan. Pada titik inilah berlaku kaidah ushul fiqih :

وَاجِبٌ فهو به ِالا الواجب مالايتم

Suatu kewajiban yang tidak akan sempurna, kecuali dengan adanya sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya menjadi wajib

Dengan penegasan Allah, bahwa kelompok tersebut adalah kelompok yang menyerukan islam dan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, maka dasarnya harus berupa aqidah islam. Pemikiran, pandangan dan hukum-hukum yang diemban kelompok tersebut juga harus terpancar dari aqidah islam. Semuanya itu kemudian dijadikan sebagai ikatan yang mengikat keanggotaan para anggotanya. Namun, itu saja belum cukup, kelompok tersebut juga harus mempunyai pemimpin yang ditaati oleh para anggotanya.

Dengan demikian, adanya pemikiran, pandangan dan hukum-hukum islam yang diadopsi oleh para anggotanya, serta pemimpin yang ditaati, tidak bisa dianggap sebagai sikap ta’ashub. Sebab, semuanya ini masih menjadi bagian dari konsekuensi periantah yang dimaksud oleh nash/dalil di atas. Tanpa itu mustahil perintah tersebut bisa diwujudkan sebagaimana yang dikehendaki oleh Alloh Swt.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: