AGENT OF CHANGE

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Posted on: Desember 7, 2009

Iklan

Posted on: Desember 7, 2009

JILBAB
Oleh: Abdul Hanif
30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.
31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

59. Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Akhir-akhir ini banyak sekali kita jumpai kaum Muslimah, baik remaja maupun dewasa mengenakan pakaian Muslimah dengan berbagai warna, corak dan model. Jika kita cermati, tidak semua kaum Muslim memiliki pandangan yang jelas tentang pakaian Muslimah. Faktanya, banyak wanita yang mengenakan kerudung hanya menutupi rambut saja, sedangkan leher dan sebagian lengan masih tampak. Ada juga yang berkerudung tetapi tetap memakai busana yang ketat, misalnya, sehingga lekuk tubuhnya tampak. Yang lebih menyedihkan adalah ada sebagian kalangan yang masih ragu terhadap pensyariatan Islam tentang pakaian Muslimah ini.
Di samping itu, masih banyak juga di yang memahami secara rancu kerudung dan jilbab. Tidak sedikit yang menganggap bahwa jilbab adalah kerudung dan sebaliknya. Padahal, jilbab dan kerudung adalah dua perkara yang berbeda.

Menutup Aurat
Menutup aurat dan pakaian Muslimah ketika keluar rumah merupakan dua pembahasan yang terpisah, karena Allah Swt. dan Rasul-Nya memang telah memisahkannya. Menutup aurat merupakan kewajiban bagi seluruh kaum Muslim, laki-laki dan perempuan. Untuk kaum Muslimah, Allah Swt. telah mengatur ihwal menutup aurat ini al-Quran surat an-Nur ayat 31:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya; janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak padanya. Wajib atas mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. (QS an-Nur [24]: 31).

Frasa mâ zhahara minhâ (yang biasa tampak padanya) mengandung pengertian wajah dan kedua telapak tangan. Hal ini dapat dipahami dari beberapa hadis Rasulullah saw., di antaranya: Pertama, hadis penuturan ‘Aisyah r.a. yang menyatakan (yang artinya):

Suatu ketika datanglah anak perempuan dari saudaraku seibu dari ayah ‘Abdullah bin Thufail dengan berhias. Ia mengunjungiku, tetapi tiba-tiba Rasulullah saw. masuk seraya membuang mukanya. Aku pun berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, ia adalah anak perempuan saudaraku dan masih perawan tanggung.” Beliau kemudian bersabda, “Apabila seorang wanita telah balig, ia tidak boleh menampakkan anggota badannya kecuali wajahnya dan ini.” Ia berkata demikian sambil menggenggam pergelangan tangannya sendiri dan dibiarkannya genggaman telapak tangan yang satu dengan genggaman terhadap telapak tangan yang lainnya). (HR Ath-Thabari).

Kedua, juga hadis penuturan ‘Aisyah r.a. yang menyakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

«قَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ»
Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah balig (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya). (HR Abu Dawud).

Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa yang biasa tampak adalah muka dan kedua telapak tangan, sebagaimana dijelaskan pula oleh para ulama, bahwa yang dimaksud adalah wajah dan telapak tangan (Lihat: Tafsîr ash-Shabuni, Tafsîr Ibn Katsîr). Ath-Thabari menyatakan, “Pendapat yang paling kuat dalam masalah itu adalah pendapat yang menyatakan bahwa sesuatu yang biasa tampak adalah muka dan telapak tangan.” (Tafsîr ath-Thabari).
Jelaslah bahwa seorang Muslimah wajib untuk menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Artinya, selain wajah dan telapak tangan tidak boleh terlihat oleh laki-laki yang bukan mahram-nya.

Pakaian Wanita dalam Kehidupan Umum
Selain aturan tentang menutup aurat, Allah Swt. pun memberikan aturan yang sama rincinya tentang pakaian wanita dalam kehidupan umum, yaitu jilbâb (jilbab, abaya) dan khimâr (kerudung).
Dalam kesehariannya, wanita tidak menutup kemungkinan untuk keluar rumah untuk memenuhi hajatnya; ke pasar, ke mesjid, ke rumah keluarga dan kerabatnya, dan lain-lain. Kondisi ini memungkinkan terjadinya interaksi atau pertemuan dengan laki-laki. Islam menetapkan, ketika seorang wanita ke luar rumah, ia harus mengenakan khim‰r (kerudung) dan jilbab.
Allah Swt. berfirman:
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (khimâr) ke dada-dada mereka. (QS an-Nur [24]: 31).

Dari ayat ini tampaka jelas, bahwa wanita Muslimah wajib untuk menghamparkan kerudung hingga menutupi kepala, leher, dan juyûb (bukaan baju) mereka.
Sementara itu, mengenai jilbab, Allah Swt. berfirman dalam ayat yang lain:

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ ِلأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. (QS al-Ahzab [33]: 59).

Kata jalâbîb yang terdapat dalam ayat tersebut adalah jamak dari jilbâb. Secara bahasa, jilbab adalah sejenis mantel atau baju yang serupa dengan mantel (Lihat: Kamus al-Muhith). Menurut beberapa pendapat ulama tafsir, pengertiannya adalah sebagai berikut:

1. Kain penutup atau baju luar/mantel yang menutupi seluruh tubuh wanita. (Tafsîr Ibn ‘Abbas, hlm, 137).
2. Baju panjang (mulâ’ah) yang meliputi seluruh tubuh wanita. (Imam an-Nawawi, dalam Tafsîr Jalalyn, hlm. 307).
3. Baju luas yang menutupi seluruh kecantikan dan perhiasan wanita. (Ali ash-Shabuni, Shafwah at-Tafâsîr, jld. 2, hlm. 494)
4. Pakaian seperti terowongan (baju panjang yang lurus sampai ke bawah) selain kerudung. (Tafsîr Ibn Katsîr).
5. Intinya, Allah memerintahkan kepada Nabi agar menyeru istri-istrinya, anak-anak wanitanya, dan wanita-wanita Mukmin secara umum—jika mereka keluar rumah untuk memenuhi hajatnya—untuk menutupi seluruh badannya, kepalanya, dan juga juyûb mereka, yaitu untuk menutupi dada-dada mereka.
6. Pakaian yang lebih besar dari khimâr (kerudung). Ibn ‘Abbas dan Ibn Mas‘ud meriwayatkan, bahwa jilbab adalah ar-rada’u, yaitu terowongan (pakaian yang lurus tanpa potongan yang menutupi seluruh badan). (Tafsîr al-Qurthubi).

Lalu bagaimana keadaan wanita-wanita pada masa Rasulullah saw. ketika mereka keluar rumah? Hal ini akan tampak dari sebuah hadis berikut:

«قَالَتْ أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا»
Kami, para wanita, diperintahkan oleh Rasulullah untuk keluar pada saat Idul Fitri dan Idul Adha, baik para gadis, wanita yang sedang haid, maupun gadis-gadis pingitan. Wanita yang sedang haid diperintahkan meninggalkan shalat serta menyaksikan kebaikan dan dakwah (syiar) kaum Muslim. Aku bertanya, “ Ya Rasulullah, salah seorang di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab. Rasulullah saw. bersabda: Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya.” (HR Muslim).

Hadis di atas mengandung pengertian, bahwa ada salah seorang shahabiyah yang tidak memiliki pakaian (jilbab) untuk digunakan ke luar rumah; ia hanya memiliki pakaian rumah. Rasulullah saw. sendiri telah memerintahkan kepada semua wanita, bahkan wanita yang haid dan yang berada dalam pingitan sekalipun, untuk keluar shalat Id dan menyaksikan syiar/dakwah Islam. Lalu kemudian wanita tersebut mengadukan kondisi dirinya. Rasulullah saw. kemudian memerintahkan kepada wanita-wanita yang lain untuk meminjamkan pakaian luarnya kepada wanita tersebut agar wanita tersebut bisa keluar rumah untuk memenuhi seruan beliau.
Ayat al-Quran berikut lebih menguatkan hadits di atas:

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللاَّتِي لاَ يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ
Perempuan-perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada keinginan untuk menikah lagi, tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka (pakaian luar) dengan tidak menampakkan perhiasan. (QS an-Nur [24]: 60).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa wanita-wanita yang sudah mengalami menopouse boleh untuk menanggalkan jilbab (pakaian luar)-nya. Akan tetapi, mereka tetap wajib untuk menutup auratnya.
Dari beberapa nash dan keterangan yang disebutkan di atas, jelaslah bahwa jilbab adalah pakaian luar (menyerupai mantel) yang luas dan tidak terputus (seperti terowongan) yang menutupi pakaian rumah/pakaian sehari-harinya (al-mihnah) dan seluruh bagian tubuhnya kecuali muka dan kedua telapak tangan.
Dengan demikian, jilbab dan kerudung merupakan dua hal yang berbeda. Keduanya merupakan perkara yang diwajibkan oleh Allah Swt. untuk dikenakan seorang Muslimah ketika hendak keluar rumah. Mudah-mudahan Allah Swt. memudahkan kita untuk melaksanakan setiap kewajiban yang telah Allah tetapkan serta mengokohkan iman kita dengan menjadikan kita senantiasa tunduk dan terikat dengan hukum-hukum-Nya.

Sumber Rujukan:

1. Taqiyyuddin an-Nabhani, an-Nizhâm al-Ijtimâ‘î fî al-Islâm, Darul Ummah.
2. Tafsîr Ibn ‘Abbas.
3. Tafsîr Ibn Katsîr.
4. Tafsîr Jalâlayn.
5. ‘Ali ash-Shabuni, Ash-Shafwat at-Tafâsîr,
6. Sayyid Quthb, Fî Zhilâl al-Qur’ân.

Dalil Zhan dan Hadits Ahad

Oleh : Abdul Hanif

Zhan mengandung arti I’tiqad/keyakinan yang rajih (kuat/jelas), tetapi mengandung dua alternatif (yang bertentangan) sehingga harus meyakininya atau ragu/menolaknya. Berdasarkan pengertian ini, zhan merupakan sesuatu yang mengandung lebih dari satu pengertian/ kemungkinan sehingga terdapat peluang bagi manusia untuk memilih pendapat yang dianggapnya mendekati kebenaran (yakin). Jadi, perkara zhan tidak dapat dipastikan akan menghasilkan suatu yang yakin. Hal ini menjadi alasan mengapa dalil zhan tidak dapat digunakan sebagai dalil dan hujjah dalam masalah ‘aqidah. Tidak seorangpun ragu bahwa ayat-ayat al-Quran datang dari Allah sehingga derajatnya sebagai suatu sumber yang pasti tidak dipertentangkan lagi diantara kaum muslim disetiap masa. Lain halnya dengan sunnah Rasulullah saw, selain hadits yang mutawatir (hadits yang diriwayatkan sejumlah sahabat yang mustahil bersepakat untuk berdusta), hadits-hadits lainnya yang tercakup dalam kategori masyhur atau ahad tidak sampai pada derajat yang pasti 100% berasal dari Rasulullah, meskipun ulama dari golongan Hanafiah mengelompokkan hadits masyhur kedalam hadits mutawatir yang tingkatannya sampai pada keyakinan. Namun, orang yang menolak (hadits masyhur) tidak dikafirkan.

Memang dikalangan ulama terdapat perbedaan-perbedaan menyangkut status hadits ahad, apakah menghantarkan pada sesuatu yang yakin atau tidak? Dari sini, muncul perselisihan penggunaannnya dalam perkara ‘aqidah. Golongan yang berpendapat bahwa hadits ahad dapat menghantarkan pada derajat yakin, sehingga dapat dijadikan hujjah dalam perkara ‘aqidah adalah sebagian besar ulama hadits, seperti imam Abu Dawud, Ibnu Hazm, al-Karisi, al-Muhasibi, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, dan Ibnu Shalah. Adapun jumhur ulama ushul menetapkan bahwa hadits ahad mengahantarkan pada zhan, namun hadits ini setelah diakui keshahihannya wajib diamalkan dalam perkara syar’i. Berbeda halnya dengan perkara ‘aqidah, karena tidak sampai pada derajat yakin, tidak dapat diamalkan. Golongan yang berpendapat seperti ini diantaranya imam madzhab yang empat, imam Ghazali, Khatib al-Baghdadi hingga generasi terakhir, seperti Muhammad Abduh, Sayid Qutb, dan lain-lain. Agar ‘aqidah yang kita anut benar-benar bersih dan lurus, jauh dari keraguan dan syak meskipun sedikit, sumber dan makna dalilnya harus bersifat pasti. Syekh Jamaluddin al-Qasimi berkata:”sesungguhnya jumhur kaum muslim dari kalangan sahabat, tabi’in, golongan setelah mereka dari kalangan fuqaha, ahli hadits, dan ulama ushul berpendapat bahwasanya khabar ahad yang terpercaya dapat dijadikan hujjah dalam masalah tasyri’ yang wajib diamalkan, tetapi menghantarkan pada zhan tidak sampai pada derajat al-‘ilmu (yakin).” Imam Kassani berpendapat: “dengan demikian, pendapat sebagian besar fuqaha menerima hadits ahad yang terpercaya dan adil serta diperlukan dalam perkara amal (tasyri’) kecuali perkara ‘aqidah, sebab i’tiqad wajib dibangun berdasarkan dalil-dalil yang yakin, yang tidak ada keraguan di dalamnya, sementara dalam masalah amal (tasyri’) cukup dengan dalil yang rajih (kuat) saja.” Sementara itu imam al-Asnawi berkata:”pada dasarnya jika riwayat hadits ahad mendatangkan sesuatu maka yang dihasilkannya hanyalah berupa sangkaan. Allah sendiri membolehkan prasangka seperti ini, namun terbatas hanya dalam perkara amaliah, yaitu cabang-cabang kewajiban agama, bukan hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan ilmiah, seperti kaidah-kaidah pokok hukum agama.” Adapun imam Syaid Qutb berpendapat saat menafsirkan surat al-Falaq berkenaan dengan hadits bahwa Lubaid bin a’sham al-Yahudi telah menyihir rasulullah, sementara status hadits tersebut tergolong shahih:”…hadits ahad tidak dapat dijadikan sumber yang dipercaya (dalam perkara ‘aqidah) karena sumber yang dapat dijadikan rujukan dalam keyakinan adalah hadits yang mutawatir.”

Dari lontaran-lontaran pendapat tadi menunjukkan bahwa iman yang dituntut oleh Allah haruslah iman yang yakin, pembenaran (tashdiq) yang bersifat pasti (jazm) dan berasal dari dalil yang qath’i (pasti). Berkenaan dengan hal ini, al-Ghazali mengemukakan:”iman adalah sesuatu pembenaran yang pasti, yang itdak ada keraguan ataupun perasaan bersalah oleh pemeluknya.” Senada dengan pendapat imam an-Nasafi:”iman adalah pembenaran hati yang sampai pada tingkat kepastian dan ketundukkan.”

Yang dimaksud dengan pembenaran (tashdiq) adalah sekadar membenarkan sehingga belum mencapai derajat iman (i’tiqad). Oleh karena itu tashdiq dapat diterima berdasarkan dalil-dalil zhan. Akibatnya suatu khabar/hadits yang tidak sampai pada derajat mutawatir tidak boleh ditolak dalam perkara tashdiq. Meskipun demikian, sesuai dengan definisi iman yaitu pembenaran yang pasti, maka kepastian itu mengharuskan kita hanya mengambil hujjah/dalil yang bersifat qath’i saja agar ‘aqidah itu tergolong ‘aqidah yang selamat, lurus, serta tidak menjadi ajang perbedaan pendapat atau ajang ijtihad, karena dalil zhan mengandung perbedaan, baik dari aspek tsubutnya (sumber dalil) maupun dalalahnya (penunjukan dalilnya).

Perlu dipahami bahwa tidak diterimanya hadits ahad sebagai dalil dalam perkara ‘aqidah bukan berarti kita menolak dan mengingkari hadits-hadits ahad dalam perkara tasyri’, bahkan kedudukan hadits ahad dalam perkara tasyri’ sudah disepakati oleh seluruh fuqaha. Atas dasar ini, tidak adanya i’tiqad bukan berarti ingkar/menolak, tetapi menerima, hanya tidak jazm (pasti), terutama dalam perkara ‘aqidah.

Al-Quran mengharuskan Aqidah berlandaskan dalil qath’i

23. Itu tidak lain hanyalah Nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.

27. Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan Malaikat itu dengan nama perempuan.

28. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.

36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran[690]. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.

[690] Sesuatu yang diperoleh dengan prasangkaan sama sekali tidak bisa mengantikan sesuatu yang diperoleh dengan.

157. Dan karena Ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah[378]”, Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

[378] Mereka menyebut Isa putera Maryam itu Rasul Allah ialah sebagai ejekan, karena mereka sendiri tidak mempercayai kerasulan Isa itu.

116. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)[500].

[500] Seperti menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang telah Dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak.

148. Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya Kami dan bapak-bapak Kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) Kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?” kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.

32. Dan apabila dikatakan (kepadamu): “Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya”, niscaya kamu menjawab: “Kami tidak tahu Apakah hari kiamat itu, Kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan Kami sekali-kali tidak meyakini(nya)”.

27. Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.

22. Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu[1332] bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.

23. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, Maka jadilah kamu Termasuk orang-orang yang merugi.

[1332] Mereka itu berbuat dosa dengan terang-terangan karena mereka menyangka bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan mereka dan mereka tidak mengetahui bahwa pendengaran, penglihatan dan kulit mereka akan menjadi saksi di akhirat kelak atas perbuatan mereka.

7. Dan Sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul)pun,

78. Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga[67].

[67] Kebanyakan bangsa Yahudi itu buta huruf, dan tidak mengetahui isi Taurat selain dari dongeng-dongeng yang diceritakan pendeta-pendeta mereka.

Wallahu’alam bissawab

*Abdul Hanif*

0878 2107 2021

e-mail:hizb84_hanif@yahoo.co.id

Syekh Yusuf an Nabhani
Lahir 1849 dan Wafat 1932
Nama Lengkapnya Yusuf bin Ismail bin Yusuf bin Ismail bin Hasan bin Muhammad an Nabhani asy Syafi’I abul Mahasin
Beliau sastrawan, ahli syair, qadhi
Karangannya banyak sekali antara lain:
1.al Anwar al Muhamaddiyahmin al Mawaahib ad diniyah
2.Hujjatullah ‘alal ‘alamin fii mu’jizati Sayyidil mursalin
3. Di’awan al majmu’a al nanhaniyah fil madaa’ihin nabawiyah
4.Jaami’u karaamatil auliya’(ini yang biasa dikaji di pesantren
5.Ittihat al muslim biahaaditsi at targhib wa at tarhib anil bukhari wa muslim(Umar Kahalah mu’jam al mu’alifin, juz 13 hal 275-276
6.Fathul kabir fi dzammi az ziyadah ila al jami’ ash shaghir(mu’jam al mathbuat 1/1082
Al Kattani berkata: Syekh Yusuf an Nabhani beliau adalah imam al alamah al muhaddits al muhaqqiq al ‘arif billah, beliau karangannya banyak dan bermanfaat terutama dalam bidang ilmu hadits..( al Kattani fihris al fahaaris, 2/746)