AGENT OF CHANGE

Ushul

Posted on: April 29, 2009

Dalil Zhan dan Hadits Ahad

Oleh : Abdul Hanif

Zhan mengandung arti I’tiqad/keyakinan yang rajih (kuat/jelas), tetapi mengandung dua alternatif (yang bertentangan) sehingga harus meyakininya atau ragu/menolaknya. Berdasarkan pengertian ini, zhan merupakan sesuatu yang mengandung lebih dari satu pengertian/ kemungkinan sehingga terdapat peluang bagi manusia untuk memilih pendapat yang dianggapnya mendekati kebenaran (yakin). Jadi, perkara zhan tidak dapat dipastikan akan menghasilkan suatu yang yakin. Hal ini menjadi alasan mengapa dalil zhan tidak dapat digunakan sebagai dalil dan hujjah dalam masalah ‘aqidah. Tidak seorangpun ragu bahwa ayat-ayat al-Quran datang dari Allah sehingga derajatnya sebagai suatu sumber yang pasti tidak dipertentangkan lagi diantara kaum muslim disetiap masa. Lain halnya dengan sunnah Rasulullah saw, selain hadits yang mutawatir (hadits yang diriwayatkan sejumlah sahabat yang mustahil bersepakat untuk berdusta), hadits-hadits lainnya yang tercakup dalam kategori masyhur atau ahad tidak sampai pada derajat yang pasti 100% berasal dari Rasulullah, meskipun ulama dari golongan Hanafiah mengelompokkan hadits masyhur kedalam hadits mutawatir yang tingkatannya sampai pada keyakinan. Namun, orang yang menolak (hadits masyhur) tidak dikafirkan.

Memang dikalangan ulama terdapat perbedaan-perbedaan menyangkut status hadits ahad, apakah menghantarkan pada sesuatu yang yakin atau tidak? Dari sini, muncul perselisihan penggunaannnya dalam perkara ‘aqidah. Golongan yang berpendapat bahwa hadits ahad dapat menghantarkan pada derajat yakin, sehingga dapat dijadikan hujjah dalam perkara ‘aqidah adalah sebagian besar ulama hadits, seperti imam Abu Dawud, Ibnu Hazm, al-Karisi, al-Muhasibi, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, dan Ibnu Shalah. Adapun jumhur ulama ushul menetapkan bahwa hadits ahad mengahantarkan pada zhan, namun hadits ini setelah diakui keshahihannya wajib diamalkan dalam perkara syar’i. Berbeda halnya dengan perkara ‘aqidah, karena tidak sampai pada derajat yakin, tidak dapat diamalkan. Golongan yang berpendapat seperti ini diantaranya imam madzhab yang empat, imam Ghazali, Khatib al-Baghdadi hingga generasi terakhir, seperti Muhammad Abduh, Sayid Qutb, dan lain-lain. Agar ‘aqidah yang kita anut benar-benar bersih dan lurus, jauh dari keraguan dan syak meskipun sedikit, sumber dan makna dalilnya harus bersifat pasti. Syekh Jamaluddin al-Qasimi berkata:”sesungguhnya jumhur kaum muslim dari kalangan sahabat, tabi’in, golongan setelah mereka dari kalangan fuqaha, ahli hadits, dan ulama ushul berpendapat bahwasanya khabar ahad yang terpercaya dapat dijadikan hujjah dalam masalah tasyri’ yang wajib diamalkan, tetapi menghantarkan pada zhan tidak sampai pada derajat al-‘ilmu (yakin).” Imam Kassani berpendapat: “dengan demikian, pendapat sebagian besar fuqaha menerima hadits ahad yang terpercaya dan adil serta diperlukan dalam perkara amal (tasyri’) kecuali perkara ‘aqidah, sebab i’tiqad wajib dibangun berdasarkan dalil-dalil yang yakin, yang tidak ada keraguan di dalamnya, sementara dalam masalah amal (tasyri’) cukup dengan dalil yang rajih (kuat) saja.” Sementara itu imam al-Asnawi berkata:”pada dasarnya jika riwayat hadits ahad mendatangkan sesuatu maka yang dihasilkannya hanyalah berupa sangkaan. Allah sendiri membolehkan prasangka seperti ini, namun terbatas hanya dalam perkara amaliah, yaitu cabang-cabang kewajiban agama, bukan hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan ilmiah, seperti kaidah-kaidah pokok hukum agama.” Adapun imam Syaid Qutb berpendapat saat menafsirkan surat al-Falaq berkenaan dengan hadits bahwa Lubaid bin a’sham al-Yahudi telah menyihir rasulullah, sementara status hadits tersebut tergolong shahih:”…hadits ahad tidak dapat dijadikan sumber yang dipercaya (dalam perkara ‘aqidah) karena sumber yang dapat dijadikan rujukan dalam keyakinan adalah hadits yang mutawatir.”

Dari lontaran-lontaran pendapat tadi menunjukkan bahwa iman yang dituntut oleh Allah haruslah iman yang yakin, pembenaran (tashdiq) yang bersifat pasti (jazm) dan berasal dari dalil yang qath’i (pasti). Berkenaan dengan hal ini, al-Ghazali mengemukakan:”iman adalah sesuatu pembenaran yang pasti, yang itdak ada keraguan ataupun perasaan bersalah oleh pemeluknya.” Senada dengan pendapat imam an-Nasafi:”iman adalah pembenaran hati yang sampai pada tingkat kepastian dan ketundukkan.”

Yang dimaksud dengan pembenaran (tashdiq) adalah sekadar membenarkan sehingga belum mencapai derajat iman (i’tiqad). Oleh karena itu tashdiq dapat diterima berdasarkan dalil-dalil zhan. Akibatnya suatu khabar/hadits yang tidak sampai pada derajat mutawatir tidak boleh ditolak dalam perkara tashdiq. Meskipun demikian, sesuai dengan definisi iman yaitu pembenaran yang pasti, maka kepastian itu mengharuskan kita hanya mengambil hujjah/dalil yang bersifat qath’i saja agar ‘aqidah itu tergolong ‘aqidah yang selamat, lurus, serta tidak menjadi ajang perbedaan pendapat atau ajang ijtihad, karena dalil zhan mengandung perbedaan, baik dari aspek tsubutnya (sumber dalil) maupun dalalahnya (penunjukan dalilnya).

Perlu dipahami bahwa tidak diterimanya hadits ahad sebagai dalil dalam perkara ‘aqidah bukan berarti kita menolak dan mengingkari hadits-hadits ahad dalam perkara tasyri’, bahkan kedudukan hadits ahad dalam perkara tasyri’ sudah disepakati oleh seluruh fuqaha. Atas dasar ini, tidak adanya i’tiqad bukan berarti ingkar/menolak, tetapi menerima, hanya tidak jazm (pasti), terutama dalam perkara ‘aqidah.

Al-Quran mengharuskan Aqidah berlandaskan dalil qath’i

23. Itu tidak lain hanyalah Nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.

27. Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan Malaikat itu dengan nama perempuan.

28. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.

36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran[690]. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.

[690] Sesuatu yang diperoleh dengan prasangkaan sama sekali tidak bisa mengantikan sesuatu yang diperoleh dengan.

157. Dan karena Ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah[378]”, Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

[378] Mereka menyebut Isa putera Maryam itu Rasul Allah ialah sebagai ejekan, karena mereka sendiri tidak mempercayai kerasulan Isa itu.

116. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)[500].

[500] Seperti menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang telah Dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak.

148. Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya Kami dan bapak-bapak Kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) Kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?” kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.

32. Dan apabila dikatakan (kepadamu): “Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya”, niscaya kamu menjawab: “Kami tidak tahu Apakah hari kiamat itu, Kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan Kami sekali-kali tidak meyakini(nya)”.

27. Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.

22. Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu[1332] bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.

23. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, Maka jadilah kamu Termasuk orang-orang yang merugi.

[1332] Mereka itu berbuat dosa dengan terang-terangan karena mereka menyangka bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan mereka dan mereka tidak mengetahui bahwa pendengaran, penglihatan dan kulit mereka akan menjadi saksi di akhirat kelak atas perbuatan mereka.

7. Dan Sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul)pun,

78. Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga[67].

[67] Kebanyakan bangsa Yahudi itu buta huruf, dan tidak mengetahui isi Taurat selain dari dongeng-dongeng yang diceritakan pendeta-pendeta mereka.

Wallahu’alam bissawab

*Abdul Hanif*

0878 2107 2021

e-mail:hizb84_hanif@yahoo.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: